Selasa, 07 Desember 2010

Diposkan oleh Lunaticdipa di 14.07
LAPORAN PENDAHULUAN
SISTEM PERNAPASAN

A.    Anatomi Fisiologi
1.      Rongga Nasal, terdiri atas tonjolan yang disebut turbirat yang bekerja seperti kisi-kisi radiator untuk menghangatkan dan melembabkan udara.
2.      Faring, tabung muscular yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak. Merupakan pertigaan esophagus, tenggorokan dan saluran yang menuju rongga hidung.
3.      Laring, terdapat selaput suara dan serabut-serabut otot sehingga di laring adalah tempat dihasilkanya suara.
4.      Trakea, dipertahankan terbuka oleh 16-20 cincin kartilago berbentuk C. Ujung posterior mulut cincin dihubungkan oleh jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan ekspansi otot.
5.      Bronkus, bercabang dua yang berhubungan dengan pulmo. Bronkus kanan bercabang tiga, sedangkan bronkus kiri bercabang dua. Cabang ini bercabang lagi menjadi pembuluh halus yang dindingnya diperkuat oleh cincin tulang rawan yang disebut bronkiolus.
6.      Bronkiolus, memiliki dinding tipis dan tidak bersilia, memiliki gelembung-gelembung halus yang disebut alveolus.
7.      Alveolus, gelembung halus yang diselubungi pembuluh darah kapiler. Merupakan tempat terjadinya pertukaran oksigen dan karbondioksida. Memiliki dinding yang sangat elastic dan dilapisi membrane tipis untuk memudahkan proses difusi.

Mekanisme Pernapasan
Mekanisme pernapasan terbagi menjadi dua, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut.
1.      Pernapasan Dada
Muskulus interkostalis berkontraksi sehingga tulang rusuk menjadi rapat dan rongga dada membesar, paru-paru mrngembang. Tekanan paru-paru menurun dan udara masuk (inspirasi). Ketika muskulus interkostalis berelaksasi, tulang rusuk menjadi renggang, paru-paru tertekan dan tekanannya meningkat, sehingga udara keluar dari paru-paru (ekspirasi).
2.      Pernapasan perut
Mekanisme pernapasan perut diawali dengan adanya kontraksi otot diafragma, sehingga kedudukan diafragma menjadi datar dan rongga dada membesar. Tekanan paru-paru turun dan udara masuk (inspirasi). Ketika otot diafragma relaksasi, rongga dada mengecil dan paru-paru menyempit. Akibatnya tekanan paru-paru meningkat sehingga udara keluar (ekspirasi).

Volume Udara Pernapasan
Pada kondisi normal dan tidak sedang bekerja, udara yang masuk dan keluar sebanyak 500 ml. udara ini dinamakan volume tidal. Ketika seseorang merasa kaget, akan terjadi inspirasi maksimal sebanyak 1500 ml, udara ini dinamakan udara komplementer. Setelah inspirasi maksimal, terjadi pula ekspirasi maksimal dengan volume 1500 ml yang disebut udara suplementer. Proses ekspirasi maksimal akan meninggalkan udara yang tersisa sebesar 1500 ml, yang dinamakan udara residu. Jumlah total dari volume tidal, udara komplementer dan udara suplementer dinamakan volume vital paru – paru. Jika jumlah tersebut ditambah dengan volume residu akan dihasilkan volume total paru – paru (5000 ml).

B.     Pemeriksaan Diagnostik
1. Teknik Radiologi
Toraks merupakan tempat yang ideal untuk pemeriksaan radiologi. Parenkim paru yang berisi udara memberikan resistensi yang kecil terhadap jalannya sinar X, karena itu parenkim menghasilkan bayangan yang sangat bersinar-sinar. Jaringan lunak dinding dada, jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar serta diafragma lebih sukar ditembus sinar X dibandingkan parenkim paru sehingga bagian ini akan tampak lebih padat pada radiogram. Struktur toraks yang bertulang (termasuk iga, sternum dan vertebra) lebih sulit lagi ditembus, sehingga bayangannya lebih padat lagi. Metode radiografi yang biasa digunakan untuk menentukan penyakit paru adalah:
a. Radiografi Dada Rutin
Dilakukan pada suatu jarak standar setelah inspirasi maksimum dan menahan napas untuk menstabilkan diafragma. Radiografi diambil dengan sudut pandang posteroanterior dan kadang juga diambil dari sudut pandang lateral dan melintang.
Radiograf yang dihasilkan memberikan informasi sebagai berikut:
- Status rangka toraks termasuk iga, pleura dan kontur diafragma dan saluran napas atas pada waktu memasuki dada.
- Ukuran, kontur dan posisi mediastinum dan hilus paru, termasuk jantung, aorta, kelenjar limfe dan percabangan bronkus.
- Tekstur dan derajat aerasi parenkim paru.
- Ukuran, bentuk, jumlah dan lokasi lesi paru termasuk kavitasi, tanda fibrosis dan daerah konsolidasi.
b.Tomografi computer (CT Scan)
Yaitu suatu teknik gambaran dari suatu “irisan paru” yang diambil sedemikian rupa sehingga dapat diberikan gambaran yang cukup rinci. CT scan dipadukan dengan radiograf dada rutin. CT scan berperan penting dalam :
· Mendeteksi ketidaknormalan konfigurasi trakea serta cabang utama brronkus.
· Menentukan lesi pada pleura atau mediastinum (nodus, tumor, struktur vaskular)
· Dapat mengungkapkan sifat serta derajat kelaianan bayangan yang terdapat pada paru dan jaringan toraks lain.
CT scan bersifat tidak invasif sehingga CT scan mediastinum sering digunakan untuk menilai ukuran nodus limfe mediastinum dan stadium kanker paru, walaupun tidak seakurat bila menggunakan mediastisnokopi.
c. Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI)
MRI menggunakan resonansi magnetic sebagai sumber energy untuk mengambil gambaran potongan melintang tuubuh. Gambaran yang dihasilkan dalam berbagai bidang, dapat membedakan jaringan yang normal dan jaringan yang terkena penyakit (pada CT scan tidak dapat dibedakan), dapat membedakan antara pembuluh darah dengan struktur nonvascular, walaupun tanpa zat kontras. Namun, MRI lebih mahal dibandingkan CT scan. MRI khususnya digunakan dalam mengevaluasi penyakit pada hilus dan mediastinum.
d.            Ultrasounds
Tidak dapat mengidentifikasi penyakit parenkim paru. Namun, ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang akan timbul dan sering digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada torakosentesis.
e. Angiografi Pembuluh Paru
Memasukkan cairan radoopak melalui kateter yang dimasukkan lewat vena lengan ke dalam atrium kanan, ventrikel kanan lalu ke dalam arteri pulmonalis utama. Teknik ini digunakan untuk menentukan lokasi emboli massif atau untuk menentukan derajat infark paru. Resiko utama dalam angiografi yaitu timbulnya aritmia jantung saat kateter dimasukkan ke dalam bilik jantung.
f. Pemindaian Paru
Terdapat 3 pemindaian paru yaitu pemindaian perfusi, pemindaian ventilasi, dan pemindaian inhalasi. Prosedur ini digunkan untuk mendetekasi fungsi normal paru, suplai vaskuler pulmonal, dan pertukaran gas.
Pemindaian Paru Perfusi
Dilakukan dengan menyuntikkan agen radioaktif (teknetium) kedalam vena perifer dan kemudian dada dan tubuh lainnya dipindai untuk mendeteksi radiasi. Prosedur ini digunakan secara klinis untuk mengukur integritas pembuluh pulmonal relatif terhadap tekanan darah dan untuk mengevaluasi abnormalitas aliran darah sepeerti yang terjadi pada emboli.
Pemindiain Ventilasi
Dilakukan setelah pemindaian perfusi.mpasien melakukan napas dalam untuk menghirup oksigen dan gas radioaktif (xenon, kripton), yang bedifusi keseluruh paru. Pemindaian dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas paru terutam bronkitis, asma, fibrosis inflamatorik, pneumonia, empisema, dan kanker paru.
Pemindaian Inhalasi
Dilakukan dengan memberikan droplet bahan radioaktif melalui ventilator tekanan posistif. Pemindaian ini bermanfaat terutama dalam memvisualisasi trakea dan jalan napas besar.

2. Bronkoskopi
Merupakan suatu teknik yang memungkinkan visualisasi langsung trakea dan cabang-cabang utamanya. Cara ini paling sering digunakan untuk memastikan diagnosis karsinoma bronkogenik, tetapi dapat juga digunakan untuk mengangkat benda asing.

3. Pemeriksaan Biopsi
Biopsi pleural diselesaikan dengan biopsi jarum pleural atau dengan pleuroskopi, yang merupakan eksplorasi visual bronkoskopi serat optik yang dimasukkan kedalam spasium pleural. Biopsi pleural dilakukan ketika terdapat kebutuhan untuk kultur atau pewarnaan jaringan untuk mengidentifikasi tuberkulosis atau fungi.
Biopsi nodus limfe dilakukan untuk mendeteksi penyebaran penyakit pulmonal melalui nodus limfe dan untuk menegakkan diagnosa atau prognosis pada penyakit seperti penyakit hodgkin, sarkoidosis, penyakit jamur, tuberkulosis dan karsinoma.

C.    Pemeriksaan Laboratorium
1.      Uji Fungsional Paru
Uji fungsional paru meliputi pengukuran volume paru, fungsi ventilatory, mekanisme pernapasan, difusi, dan pertukaran gas. Tes ini bergun sebagai uji skreening.
2.      Pemeriksaan Gas Darah Arteri
Pemeriksaan ini membantu dalam mengkaji tingkat dimana paru-paru mampu untuk memberikan oksigen yang adekuat dan membuang carbon dioksida serta tingkat dimana ginjal mampu untuk menyerap kembali atau mengeksresi ion-ion bikarbonat untuk mempertahnkan PH darah yang normal.
3.      Oksimetri Nadi
Adalah metode pemantauan non-invasif terhadap saturasi oksigen hemoglobin. Sensor atau probe sekali pakai diletakkan pada ujung jari, dahi, daun telinga, atau batang hidung. SaO2 normal adalah 95 % s.d 100 %. Nilai dibawah 85 % menunjukkan bahwa jaringan tidak mendapat cukup suplai oksigen.
4.      Pemeriksaan Sputum
Perhatikan dan catat volume, konsistensi, warna dan bau sputum. Pemeriksaan sputum mencakup pemeriksaan :
1.      Pewarnaan Gram, pemeriksaan ini memberikan informasi tentang organisme yang cukup untuk menegakan diagnosis presumtif.
2.      Kultur sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnosa defmitif.
3.      Sensitivitas berfungsi sebagai pedoman terapi antibiotik dengan mengidentifikasi antibiotik yang mencegah pertumbuhan organisme yang terdapat dalam sputum.
4.      Basil tahan asam (BTA) menentukan adanya mikobakterium tuberkulosis,
5.      Sitologi membantu dalam mengidentifikasi karsinoma paru. Sputum mengandung runtuhan sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat sel-sel malignan. Sel-sel malignan menunjukkan adanya karsinoma
6.      Tes kuantitatif adalah pengumpulan sputum selama 24 sampai 72jam.

D.    Pengkajian Umum
Pemeriksaan Jasmani terdiri dari: Anamnesis, inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
1.      Anamnesis.
a. Keluhan utama penyakit yang diderita, alat-alat tubuh lain, rohani, penyakit yang pernah diderita, keturunan, nutrisi, lingkungan, obat-obat yang digunakan.
b. Gejala Umum
Suhu , pusing nafsu makan, lemah, keringat dingin.
c. Gejala Lokal
- Batuk : Kering, basah, Spastik (tdk mudah berhenti).
- Sesak nafas : karena penyakit lain, Tersumbat, Kelainan paru, Gangguan lambung, ascites.
- Pengeluaran Dahak
Sifat – sifat : cair kental, lekat, berbusa, berwarna, bau, jumlah dan darah
- Nyeri Dada
- Karena kelainan dinding thoraks, mediastinum.
2.      Inspeksi
a. Posisi : duduk, baring
b. Arah : depan, belakang, atas
c. Bentuk :
- Ptisis (panjang dan gepeng)
- Thoraks : dada burung
- Barel chest (seperti tong)
- Cekung, kedalam
d. Kesimetrisan
e. Gerakan pernapasan
f. Frekuensi N pada orang dewasa 18 – 22 x / menit sifatnya abdominal / thorakoabdominalis
g. Frekuansi normal pada anak 30 – 40 x / menit sifatnmya abdominalis / thorakoabdominalis.
h. Jenis pernapasan :
- Tachipnea : Paru / jantung ada gangguan
- Bradipnea : keracunan balbiturat, uremia, koma diabetis, proses dalam otak
- Cheyne stokes : keracunan obat bius penyakit jantung, paru, ginjal, perdrahan SSP.
- Dangkal : empisema, tumor paru, cairan dipleura, konsolidasi paru
- Hiperpnea : lebih dalam, kecepatan normal
- Apneustik : lesi pusat pernafasan.
- Penonjolan dada setempat yang berdenyut : aneurysma
3.      Palpasi
a. Pemeriksaan kelainan dinding thoraks
- Nyeri tekan.
- Bengkak
- Menonjol
b. Pemeriksaan tanda – tanda penyakit paru
- Gerakan dinding thoraks waktu inspirasi dan ekspirasi
- Kesimetrisan
- Getaran suara ( fremitus vocal )
- konsolidasi paru, pnemonia lobaris, tbc, infark paru, atelektasis dll.
- pleura terisi air, darah, nanah, bronchus tersumbat, emfisema.
c. Memeriksa tanda – tanda penyakit jantung dan aorta.
4.      Perkusi
Perkusi adalah untuk menentukan keadaan paru
- Normal : suara perkusi resonan – dug – dug.
- Sangat resonan : timpanik dang-dang, udara (pneumothoraks).
- Agak menggendang: sub timpanik – dung ( rongga pleura mengandung udara )
- lebih resonan: belum subtimpanik = hiperesonan deng-deng ( emfisema, pnemonthoraks ringan )
- kurang resonan: deg – deg ( fibrosa )
- Redup : bleg-bleg ( paru-paru padat )
- Pekak : seperti suara perkusi pada paha ( rongga pleura penuh nanah, tumor, fibrosis ).
5.      Auskultasi
a. Suara nafas
- Trakheo bronkhial : Normal pada trachea, seperti meniup pipa pada thoraks penderita pnemonia
- Bronkhovesikuler : Normal pada bronkhi, sternum atas (3 – 4) inspirasi vesikuler, ekpirasi tracheo bronchus.
- Vesikuler: Normal Suara jaringan paru, inspirasi dan ekspirasi, tidak terputus, tidak terdengar pada penebalan.
b. Resonan Vocal
c. Suara Tambahan
-  Ronchi: Suara dalam bronchi oleh karena penyempitan lumen bronchi, penyempitan oleh karena selaput lendir bengkak, tumor menekan bronkhus, pada asthma ada wheezing.
- Krepitasi : Seperti hujan rintik – rintik. Berasal dari bronkhus, alveolus, kavitas paru berisi cairan :
- Halus : karena alveoli yang tertutup mulai terbuka yang digesekan dengan jari.
- Kasar : Seperti suara bila kita meniup air.

E.     Diagnosa yang Sering Muncul
1.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi berlebihan dan kental.
2.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk, ketidakmampuan untuk mengambil posisi rekumben, dan stimulus lingkungan.
3.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan kelemahan dan upaya batuk buruk.
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea, kelemahan, anoreksia, mual muntah.
5.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru dan atelektasis.
6.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, insufisiensi oksigen,
7.      Ansietas berhubungan dengan kesukaran bernafas dan takut asfiksia.

0 komentar:

 

Moody !!! Copyright © 2010 Edited by Aa' Eric Blogger Template Sponsored by Aa' Eric's House